Peraturan

Pelanggaran

Mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil diharapkan tidak melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dan norma yang berlaku.

 

Azas

Mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil diharapkan tidak melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dan norma yang berlaku. Jika Mahasiswa melakukan pelanggaran, STMIK - STIE Mikroskil dapat memberikan sanksi yang setinggi-tingginya berupa pencabutan status sebagai Mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil secara permanen.

 

Larangan

STMIK - STIE Mikroskil dapat memberikan sanksi lisan maupun tulisan sampai pada sanksi yang setinggi-tingginya berupa pencabutan status sebagai mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil secara "Permanen" jika terbukti:

  • Mengenakan pakaian yang kurang sopan (seperti baju tidak berlengan, celana pendek, rok diatas lutut) dan sandal (termasuk sejenisnya).
  • Merokok pada tempat yang tidak diizinkan.
  • Menggangu ketenangan belajar dalam kampus.
  • Melakukan kecurangan dalam ujian.
  • Menggunakan bahasa dan atau berprilaku yang tidak sopan selama di kampus.
  • Membuang sampah sembarangan.
  • Berteriak-teriak di dalam kampus.
  • Dan hal lainnya yang menjadi larangan umum di STMIK - STIE Mikroskil.

 

Tindakan Terlarang

STMIK - STIE Mikroskil dapat memberikan sanksi yang setinggi-tingginya berupa pencabutan status sebagai mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil secara “Permanen” jika terbukti:

  • Melakukan Pemalsuan atau sejenisnya.
  • Bermabuk-mabukan/ Minuman Keras.
  • Menggunakan dan menyebarluaskan Obat Terlarang atau Narkoba/ Psikotropika.
  • Meembawa senjata (api, tajam dan sejenisnya) dan atau bahan peledak.
  • Pelecehan dan atau Pelanggaran Seksual.
  • Menyebarluaskan gambar atau foto yang bersifat asusila.
  • Melakukan pelanggaran dengan melakukan pemaksaan atau menakut-nakuti/ melawan/ mengancam/ mengintimidasi.
  • Mengganggu secara langsung jalannya kegiatan resmi STMIK - STIE Mikroskil dengan cara kekerasan.
  • Menghasut atau mengadu domba.
  • Menyebarluaskan informasi yang merugikan nama baik seseorang, lembaga, golongan, ras, suku dan agama.
  • Berkelahi di dalam atau diareal sekitar kampus.
  • Melakukan Pencurian.
  • Tindakan yang menjurus ke unsur SARA.
  • Mencoret/ Merusak barang-barang/ perlengkapan/ gedung milik STMIK - STIE Mikroskil.
  • Melakukan perencanaan pembunuhan dan atau pembunuhan.
  • Melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di STMIK - STIE Mikroskil secara sistematis atau sengaja.
  • Melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia yang diancam dengan hukuman pidana penjara.

 

Tindakan yang menjadi larangan dalam pemerintah yang diatur dalam perundang-undangan yang berlaku, seperti:

Minuman Keras

  • Minumam keras adalah segala jenis minuman yang mengandung alkohol seperti diatur dalam keputusan Menteri Kesehatan R.I.
  • Di dalam kampus, mahasiswa dilarang:
    • Memiliki atau membawa, menyimpan, memperdagangkan atau menyebarkan minuman keras.
    • Minuman keras apalagi sampai mabuk dan menimbulkan gangguan di dalam kampus.

Narkotika Dan Psikotropika

  • Minumam keras adalah segala jenis minuman yang mengandung alkohol seperti diatur dalam keputusan Menteri Kesehatan R.I.1. Menurut Undang - undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika yang dimaksud dengan narkotika ialah zat atau obat baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan:
    • Golongan I (satu), hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dilarang untuk kepentingan lain. Contoh: heroin, kokain, ganja dan sejenisnya
    • Golongan II (dua), berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh: opium, morfin, petidin serta turunannya.
    • Golongan III (tiga) berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau tujuan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan. Contoh : kodein dan garam - garam narkotika dalam golongan tersebut.
  • Menurut Undang - undang R.I. Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika; yang dimaksud Psikotropika ialah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika digolongkan menjadi :
    • Psikotropika Golongan I (satu), hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dilarang untuk kepentingan lain. Potensi ketergantungan besar sekali. Contoh : LSD, Meskalina, Ectasy dan sejenisnya.
    • Psikotropika Golongan II (dua), untuk kepentingan ilmu pengetahuan, berkhasiat pengobatan, dapat untuk terapi, Potensi ketergantungan besar. Contoh : Amfetamina, PCP, Metamfetamina dan sejenisnya.
    • Psikotropika Golongan III (tiga), untuk kepentingan ilmu pengetahuan berkahsiat pengobatan, banyak untuk terapi. Potensi ketergantungan sedang. Contoh : Amobarbital, Siklobarbital dan sejenisnya.
    • Psikotropika Golongan IV (empat), untuk kepentingan ilmu pengetahuan, berkahsiat pengobatan, sangat luas untuk terapi. Potensi ketergantungan ringan Contoh : Fenobarbital, Meprobamat, Diazepam dan sejenisnya.
  • Mahasiswa didalam kampus dilarang secara tanpa hak untuk membawa, memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan atau menguasai, memproduksi, mengolah, merakit, menyediakan, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menrima menjadi perantara dalam jual beli atau menukar narkotika/ psikotropika.

Obat Terlaranng

  • Obat terlarang adalah bahan obat - obatan yang seharusnya hanya dapat diperoleh dengan resep dokter dan disalahgunakan penggunaannya dengan tujuan lain seperti mabuk, halusinasi dan efek gangguan kejiwaan lain terutama obat-obat golongan penenang, psikotropik dan lain-lain.
  • Mahasiswa di dalam kampus dilarang memiliki, membawa, menyimpan, memper-dagangkan, menyebarkan, membuat atau menggunakan obat terlarang di luar tujuan pengobatan yang sah.
  • Mahasiswa dilarang menggunakan obat terlarang untuk dirinya sendiri atau orang lain di luar tujuan pengobatan yang sah.

Judi

  • Judi adalah permainan yang menggunakan alat bantu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk digunakan sebagai media taruhan dengan atau barang lainnya yang mempunyai nilai atau harga dan mengakibatkan kerugian atau keuntungan salah satu pihak.
  • Permainan judi, baik langsung maupun tidak langsung dilingkungan Kampus STMIK - STIE Mikroskil merupakan kegiatan yang melanggar peraturan STMIK - STIE Mikroskil.

Senjata

  • Yang diartikan dengan senjata adalah segala jenis alat yang dapat membahayakan atau menewaskan jika digunakan, seperti diatur dalam undang - undang. Jenis - jenis senjata antara lain: senjata api (jenis bahu, genggam, laras panjang, laras pendek dan ikutannya), pisau, clurit, krakling, bom, granat, botol lempar yang berisi bahan bakar atau bahan eksplosif, atau alat lain yang bersifat membahayakan.
  • Mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil dilarang membawa, menyimpan, memperdagangkan, menyebarluaskan, membuat, atau menggunakan senjata tanpa izin.

Bahan Peledak

  • Yang dimaksud dengan bahan peledak adalah bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas, atau campurannya yang apabila dikenai atau terkena suatu aksi berupa panas, benturan atau gesekan akan berubah secara kimiawi dalam waktu yang sangat singkat disertai dengan efek panas dan tekanan yang sangat tinggi termasuk kedalamnya bahan peledak yang digunakan untuk keperluan industri maupun militer.
  • Mahasiswa STMIK - STIE Mikroskil tanpa izin yang berwenang dilarang memiliki, membawa, menyimpan, memperdagangkan, membuat atau mengolah bahan peledak di dalam kampus.

Pelecehan Seksual Dan Atau Pelanggaran Seksual

  • Yang dikategorikan dan dimaksud dengan tindakan/ perbuatan pelecehan dan pelanggaran seksual adalah sebagai berikut:
    • Berprilaku atau mengucapkan kata - kata tidak senonoh.
    • Memperkosa, melakukan perbuatan asusila, yang dapat menimbulkan perasaan tidak senang, sakit (fisik dan mental) serta terganggunya perasaan dan kehormatan bagi mereka yang terkena perbuatan dan tindakan tersebut, atau selanjutnya disebut korban.
  • Tindakan/ perbuatan pelecehan dan pelanggaran seksual dianggap terjadi apabila ada:
    • Laporan dari pihak yang terkena atau korban.
    • Laporan dari saksi yang melihat terjadinya perbuatan pelecehan dan pelanggaran seksual tersebut.

 

Sanksi

Sanksi dikenakan terhadap suatu pelanggaran dengan tujuan untuk memberikan pengertian mengenai adanya aturan yang harus diikuti, memberi peringatan terhadap tindakan yang salah. Sanksi menjadi peringatan untuk mendidik dan tidak hanya berlaku lainnya mahasiswa yang mmelanggar melainkan anggota sivitas akademika lainnya yang memilki hak dan kewajiban yang sama terhadap peraturan yang berlaku.

Pengertian Sanksi

Sanksi adalah suatu tindakan yang diberikan kepada mahasiswa, baik secara perorangan atau kelompok/organisasi, karena terbukti melakukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.

  • Sanksi adalah suatu tindakan yang diberikan kepada mahasiswa baik secara perorangan, kelompok/ organisasi karena terbukti melakukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.
  • Sanksi dikenakan terhadap suatu pelanggaran dengan tujuan untuk memberikan pengertian mengenai adanya aturan yang harus diikuti, memberi peringatan terhadap tindakan yang salah serta sanksi tersebut menjadi peringatan untuk mendidik dan tidak hanya berlaku bagi mahasiswa yang melanggar melainkan anggota sivitas akademika lainnya yang memilki hak dan kewajiban yang sama terhadap peraturan.
  • Sanksi dapat diberikan kepada mahasiswa (perorangan, organisasi atau penanggung jawab organisasi) atas tindakan atau perbuatan yang terbukti melanggar peraturan institusi.
  • Dengan diberikannya sanksi, diharapkan tidak terjadi lagi pelanggaran yang dilakukan oleh yang bersangkutan atau mahasiswa lain. Pengulangan pelanggaran baik yang telah dilakukan sendiri maupun yang telah dilakukan oleh orang lain dapat dikenakan sanksi yang lebih berat.

Jenis Sanksi

  • Jenis sanksi yang dijatuhkan tergantung dari jenis kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan. Sanksi dikategorikan berdasarkan urutan dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
  • Sanksi-sanksi administratif terdiri dari:
    • Teguran (lisan).
    • Peringatan (tertulis).
    • Penghentian sementara kegiatan organisasi.
    • Pencabutan izin kegiatan.
  • Sanksi-sanksi akademik terdiri dari:
    • Peringatan (tertulis).
    • Dikeluarkan dari kegiatan perkuliahan.
    • Dikenakan status sebagai mahasiswa percobaan.
    • Penghentian sementara status sebagai mahasiswa.
    • Pencabutan status sebagai mahasiswa secara permanen.

Prosedur Pemberian Sanksi

  • Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan menerima laporan atau pengaduan dari:
    • Sivitas akademika mengenai terjadinya pelanggaran terhadap peraturan, tata tertib, atau norma yang berlaku, baik secara lisan maupun tertulis.
    • Mahasiswa yang merasa dirinya telah dirugikan nama baiknya, baik secara moral maupun finansial, baik secara lisan maupun tertulis.
  • Pemeriksaan, penelitian, dan evaluasi terhadap laporan tersebut di atas dilengkapi dengan Berita Acara Pemeriksaan dan dilakukan untuk membuktikan apakah laporan tersebut perlu diproses lebih lanjut atau tidak.
  • Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan beserta Komisi Pembelaan Mahasiswa dan Penegakan Norma melakukan pemeriksaan, penelitian, dan evaluasi terhadap laporan tertulis apakah dapat diduga telah terjadi pelanggaran oleh mahasiswa yang bersangkutan dan yang terkait dalam pelanggaran dapat dipanggil untuk memberikan data dan informasi mengenai pelanggaran dimaksud.
  • Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan beserta Komisi Pembelaan Mahasiswa dan Penegakan Norma dapat memberikan rekomendasi:
    • Pembelaan tehadap mahasiswa yang diadukan oleh sivitas akademika STMIK-STIE Mikroskil, tetapi tidak terbukti kesalahannya.
    • Pembelaan terhadap mahasiswa yang mengadukan karena yang bersangkutan merasa telah dirugikan nama baiknya secara moral maupun meterial dan ternyata memang yang bersangkutan tidak memiliki bukti suatu kesalahan.
    • Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan beserta Komisi Pembelaan Mahasiswa dan Penegakan Norma dapat memberikan rekomendasi mengenai sanksi bagi pelaku pelanggaran yang disampaikan kepada Tim Binap STMIK-STIE Mikroskil.
    • Pengambilan keputusan sanksi dilakukan oleh Tim Binap setelah mempertimbangkan rekomendasi dari Komisi Pembelaan Mahasiswa dan Penegakan Norma.
    • Jika kasus pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa STMIK-STIE Mikroskil telah terbukti secara nyata dan telah diproses oleh lembaga peradilan atau kepolisian sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, maka sanksi kepada mahasiswa, baik perorangan, kelompok, atau organisasi dapat diputuskan oleh Tim Binap STMIK-STIE Mikroskil tanpa perlu dilakukan pemeriksaan, penelitian, dan evaluasi oleh Wakil Ketua III beserta Komisi Pembelaan Mahasiswa dan Penegakan Norma.

OUR LOCATION


Kampus A » Jl. Thamrin No. 124 Medan - 20212

Kampus B » Jl. Thamrin No. 140 Medan - 20212

Kampus C » Jl. Thamrin No. 112 Medan - 20212

Nomor Telepon (061) 4573767, Fax. (061) 4567789


Copyright © 2017 STMIK-STIE Mikroskil

OUR PARTNER


FORSEC SAP Microsoft